Beranda > Belajar sambil Bermain > Naskah Drama :: “Moejahidin Soetjipto Mangoen Koesoemo Mangkoe Wanita Lima Ing Tengah Segara Tanpa Boesana”

Naskah Drama :: “Moejahidin Soetjipto Mangoen Koesoemo Mangkoe Wanita Lima Ing Tengah Segara Tanpa Boesana”


Moejahidin Soetjipto Mangoen Koesoemo Mangkoe Wanita Lima Ing Tengah Segara Tanpa Boesana

Pemain : 3 laki-laki dan 7 perempuan

  1. Sutradara                      : Sabrina Aulia Nisa
  2. Penata Musik                : Akbar Firmansyah
  3. Penata Panggung          : Nur Maulidatul Ifada dan Khusnul Khotimah
  4. Penata Rias & Busana  : Fida Fitriyah dan Sukmawati Ningsih
  5. Pemain                          :
    1. Jidin diperankan oleh Daniel Supriadi
    2. Pak Slamet diperankan oleh Ahmad Idris
    3. Tini diperankan oleh Nova Riskila
    4. Wati diperankan oleh Nur Indawati
    5. Arini diperankan oleh Dewi Ratna Winingsih
    6. Juragan Hindun diperankan oleh Amrina
    7. Tika diperankan oleh Elida Dazman
    8. Barda diperankan oleh Novita Puji Lestari
    9. Guru diperankan oleh Fida Fitriyah
    10. Bu Nur diperankan oleh Nur Maulidatul Ifadah
  6. Naskah Drama

Di sebuah desa di kaki gunung slamet dimana udaranya masih sejuk dan bersih, sejauh mata memandang hanya hamparan hijau yang terlihat., sawah-sawah dengan padi yang menguning manambah asri suasana di desa itu, hiduplah warga yang sejahtera. Semua warganya adalah petani. Sawah mereka subur. Sapi-sapi yang mereka ternak, menghasilkan susu yang tiada habisnya. Ayam-ayampun tak mau kalah, mereka selalu bertelur setiap pagi tanpa kenal lelah. Kerbau, kambing, bebek ternak para petani, mereka semua melakukan semua pekerjaannya dengan baik. Sayangnya, kepedulian tentang pendidikan warga disana sangat rendah. Bagi mereka, asal dapur mengepul, itu sudah cukup. Hanya sedikit anak-anak di desa itu yang bersekolah. Sekolah Dasar di desa itu hanya ada satu. Dan yang ingin melanjutkan ke jenjang SMP maupun SMA harus datang ke desa  lain yang jaraknya tidak dekat dengan desa mereka. Mereka pun harus berjalan kaki karena satu-satunya jalan ke desa itu adalah jalan setapak yang licin dan berlumut.

Suatu hari terjadi musim kemarau yang sangat panjang. Hampir semua desa di daerah tersebut kekeringan. Petani gagal panen. Mereka merugi, bahkan bangkrut Karena mereka tidak mampu me-manage keuangan mereka sehingga mereka tidak punya tabungan atau pun uang simpanan untuk menutupi kerugian tersebut. Keadaan berubah 1800 , sekarang warganya miskin dan terlilit hutang oleh seorang juragan kaya di desanya. Juragan itu bernama Hindun. Hindun adalah orang paling kaya di desa itu. Hindun mendapat warisan yang cukup banyak dari almarhum suaminya yang konon katanya keturunan bangsawan tempo dulu, berdarah biru, sehingga anak tunggalnya, Tika, menjadi satu-satunya warga desa yang mengenyam bangku kuliah. Sifat buruknya yang suka menghambur-hamburkan uang membuat harta peninggalan suaminya itu hampir habis. Maka dari itu, dengan modal sisa hartanya, dia dan anaknya berencana membuat sebuah kondominium atau vila yang besar di desa tersebut. Hindun dan anaknya memberi hutang dengan bunga yang melilit kepada para petani dengan jaminan sawah mereka, sehingga, suatu saat mereka bisa menyita seluruh sawah warga dan membangun gedung impian mereka. Musim kemarau sudah berakhir, namun petani-petani itu tetap miskin karena hutang yang tak kunjung lunas.

Lain halnya dengan keluarga ini, mereka tak mempunyai hutang dengan juragan Hindun. Namun mereka tetap miskin. Anak perempuannya yang sakit-sakitan membuat keluarga ini hidup dalam kemiskinan. Jidin, anak pertama keluarga ini,mimpinya adalah membangun desanya kembali. Namun apakah mungkin impiannya itu terrealisasi?

Jidin   :  “Pokoknya kalau aku sudah lulus nanti, aku akan kuliah di kota!”.

Wati   :  “Apaa?? Lulus aja syukur, apalagi mikir mau nglanjutin kuliah! Di kota lagi. Apa kata dunia????”.

Jidin   :  “Sesuai dengan namaku, Mujahidin Soetjipto Mangun Kusumo Mangku Wanita Lima Ing Tengah Segara Tanpa Busana, ingkang Mujahidin artinya pejuang, aku akan berjuang demi cita-citaku, Soe artinya baik, Tjipto artinya ciptaan Tuhan, dadosipun Soetjipto artinya orang ganteng, Mangun membangun desa, Kusama. . . . . . . (tiba-tiba terhenti).

Wati    :  “(menyela). Alah. . . .iya. . .iya. . . Aku sudah hafal kok! Emang uang dari mana?”

Jidin   :  “Aku kan punya uang banyak dari tabunganku selama ini!”

Wati   :  “Emang cukup?? Lagian, apa kamu nggak kasihan sama adikmu? Dia kan sakit-sakitan terus. . . . kalau kamu punya uang banyak apa ndak lebih baik buat adikmu berobat ke rumah sakit di kota saja?”

Tiba-tiba juragan dan anaknya yang sombong lewat, dengan lagaknya yang sok kaya. . . . .

Tika   :  ”Ehm….anak kampung lagi pada ngobrol apa nih? Mimpi mau kuliah di kota?? Nggak usah mimpi deh!! Jellllleeeehhh. . . . .

Juragan Hindun   :  “Buat makan aja susah, belaga sok pengen kuliah lah. . . . Dikampung ini nih, yang pantes kuliah cuma anakku yang cantik ini!”

Kemudian keduanya berlalu meninggalkan Jidin dan Wati.

Wati    :  “Udah din, ndak usah di dengerin omongan orang-orang sombong itu, bikin emosi aja.Mereka tu cuma sirik aja sama…. Kamu nggak dengerin aku ngomong ya? ”

Betapa bahagianya Jidin ketika dia mengangkat kepalanya, yang dilihat adalah sesosok “Arini”, gadis manis berparas ayu yang di pujanya sejak umur 10 tahun.

Arini    :  “Sugeng sonten. . .”

W & J :  “Sore…..”

Wati    :  “Rin, kamu mau kemana? Sini ikutan ngobrol!”

Arini   :  “Oh. . .maaf  aku mau ke sekolah dulu buat nyiapin acara istighosah  nanti. Kalian dateng kan? Jangan sampai nggak dateng ya??”

Jidin  :  “Oh. . .ya. . .ya. . .pasti, pasti, pasti. Aku pasti dateng! Aduh keceplosan (sambil menutup mulutnya dengan tangan)”

Arini    :  (tersenyum kecil) Ya sudah, aku duluan ya. . . . .Assalamu’alaikum!”

Jidin &Wati   :  ”Wa’alaikumsalam”

Setelah Arini pergi pandangan Jidin lurus kearah Arini hingga akhirnya Arini menghilang di tikungan.

Tini      :  “Uhuk. . .uhuk. . .”

Lamunan jidin terpecah oleh suara batuk Tini. Jidin langsung berlari menuju Tini, Wati pun mengikutinya.

Jidin   :  ”Kamu kenapa lagi Tin?”

Tini      :  ”Ndak apa-apa mas?”

Jidin   :  “Batuk kok nggak apa-apa?”

Tini      :  “Sudah biasa”

Jidin :  “Iya biasa. . . tapi batukmu ini beda. Kamu pucat lagi, mau mas bawa ke puskemas? (sambil mengelus rambut Tini)”

Tini    :  ”Ndak apa-apa mas, emangnya mas punya uang?? Uangnya kan buat mas Jidin sekolah di kota?”

Jidin   :  ”Iya. . .tapi kan kalau sakit harus berobat!”

Tini      :  ”Ndak apa-apa mas, nanti minum jamu resep almarhum ibu juga mendingan!”

Jidin mengernyitkan dahi dan memandang Tini dengan perasaan khawatir. Wati pun langsung menarik Jidin dan mengajaknya berbicara.

Wati    :  ”Sebenarnya Tini sakit apa tho?”

Jidin   :  ”(Berjalan ke luar kemudian duduk di kursi dan menghela nafas)Waktu dia kecil, saat umurnya belum ada 1 tahun dia tertular penyakit TBC yang membuat ibu meninggal. Waktu ibu masih ada, desa kita ini masih mengalami musim panas  yang panjang. Semua orang gagal panen, bangkrut, miskin, dan jadi punya utang dengan juragan yang songong itu! Tapi bapakku nggak mau pinjam sam dia, tau sendiri kan?”

Wati   :  ”Iya. . .lintah darat! Keluargaku punya banyak utang dengannya!! Sampai-sampai sawah kami hampir disitanya!! Untung saja bapakku masih kuat bekerja di usia tuanya ini (menyilakan tangannya)”

Jidin  :  ”Sabar ya. . . .”

Wati   :  ”Iya. . .iya. . .lanjutkan ceritamu!!”

Jidin  :  “Ya itu gara-gara bapak nggak punya uang, penyakit ibu terlambat di tangani. Tubuhnya makin hari makin kurus, makin lemah, tua. . .Sampai-sampai Tini nggak minum ASI sejak sepuluh bulan. Kasihan dia. . . . .

Wati    :  “Mmmm. . . .(seolah paham)”

Jidin :  “Sudah sore, kamu nggak pulang? Katanya mau ikut istighosah , habis maghrib nanti kan?”

Wati   :  “Oh. . .iya, ya sudah aku pulang dulu. Meskipun kemungkinan besar aku nggak lulus. . .tapi berdoa nggak ada salahnya kan? (berdiri dari tempat duduknya sambil lalu)”

Jidin   :  “Hahahahaha. . . .iya. .iya. . .”

Wati    :  “Asskum. . . . “

Jidin   :  “Wasskum. . . .”

Wati adalah teman dekat Jidin. Dia sudah berteman dengan Jidin dari kecil. Wati selalu ceria setiap hari. Dia suka bercanda, itulah yang membuat Jidin betah lama-lama di samping Wati. Jidin pun sudah menganggap Wati seperti saudaranya sendiri. Begitu juga dengan Pak Slamet ayah Jidin, dia juga menganggap Wati seperti anak sendiri. Namun ternyata, Wati memiliki perasaan yang berbeda terhadap Jidin. Wati lebih ingin dianggap sebagai kekasih oleh Jidin. Sudah lama Wati memendam perasaanya, namun Jidin tak pernah menyadarinya.

Sementara itu di rumah juragan, Juragan Hindun dengan anaknya Tika sedang membicarakan tentang proyek besar  vila “Pesona Kasoeng Indah”.

Juragan Hindun       :  “Gimana Tik? Sudah kamu sita semua sawahnya?”

Tika  :  “Tenang aja mom. . .masa’ lulusan Teknik Sipil nggak bisa ngurusin masalah kecil gitu?”

Juragan Hindun :  “Hallaah. .nggak usah banyak gaya kamu Tik, kayak bapak kamu aja?”

Tika    :  “Daddy mom!! Bukan bapak!”

Juragan Hindun :  ”Iyalah apa itu!! Kayak Daddy mu, ngomongnya masalah kecil. Tapi sampai dia mati tetep aja nggak kelar-kelar. Mamy mu ini udah pengen cepet-cepet jadi orang yang paling kaya !!”

Tika     :  ”Iya iya. . .mom, tenang aja proyek Vila ”Pesona Kasoeng Indah” ini bakal sukses di tangan Tika!” Apalagi warga desa ini kan makin hari makin bego aja!! Udah jelas kita itu rentenir, masih aja pada minjem uang dari kita?!

Juragan Hindun       :  ”Betul juga!!”

Juragan Hindun & Tika       :  ”Hahahahah. . .  .uhuk . . .uhuk. . .(batuk).

***

Keesokan harinya. Ketika cahaya jingga memenuhi hampir setiap sudut desa, saat itulah yang paling Jidin suka, sore hari. Waktu dimana burung-burung yang mencari makan bergerombol kembali kesaranganya di pohon asem yang tumbuh kurus melindungi sebagian atap rumah Jidin, saat dimana jangkrik-jangkrik mulai mengerik, manyanyikan nyanyian klasik sebagai pengiring matahari yang pulang ke peraduannya. Namun sore ini tak seperti biasanya, Jidin yang biasanya membantu bapaknya bekerja di sawah, kini hanya duduk di kursi teras rumahnya yang reot dan keropos dimakan rayap sambil membaca Al Qur’an. Kepalanya ia sandarkan di susunan kardus, dinding rumahnya. Jidin terlihat gusar. Besok adalah hari pengumuman kelulusan di sekolahnya. Hari itu adalah hari yang sangat penting bagi Jidin, hari penentu dan pemfonis angan Jidin.

Pak Slamet :  ”Assalamu’alaikum (merebahkan badannya di kursi yang berada di samping Jidin dan meletakkan peralatan kerjanya)”

Jidin   :  ”Wa’alaikumssalam (sambil menciup tangan bapaknya)”

Pak Slamet :  ”Eh. . .kotor-kotor! (sambil mengusap tangannya yang kotor ke bajunya)”

Jidin   :  ”Nggak apa-apa pak, bapak belum sholat ashar?”

Pak Slamet    :  ”Sudah nak, setelah sholat bapak ke sawah lagi! Makanya tangan Bapak masih kotor”

Jidin    :  ”Mmm. . .maaf ya pak? Hari ini Jidin nggak bantu bapak di sawah, Jidin pusing banget pak?(sambil memegang kepalanya dan menunduk)”

Pak Slamet  :  ”Iya bapak tahu!! Kamu lagi cemas dan taku tha? Besok kan pengumuman kelulusan. Semoga kamu lulus ya nak?(mengelus kepala Jidin)”

Jidin   :  ”Makasih ya pak, do’ain jidin semoga sukses!!”

***

Keesokan harinya, Jidin terlihat gugup mendekati papan hitam yang bertempel kertas putih pengumuman hasil ujian. Saat ia sampai di depan papan tersebut, ia gugup mencari-cari namanya dan akhirnya. . . .

Jidin   :  ”Alhamdulillah. . .terima kasih ya Allah (sambil sujud syukur)”

Tiba-tiba Wati berlari ke arah Jidin dengan jingkrak-jingkrak sambil membawa secarik kertas . . . ..

Wati    :  ”Jidin. . . .aku nggak nyangka loh. . .ternyata aku juga lulus. Aku seneng banget!”

Jidin    :  ”Iya ya. . .bener kan apa yang aku bilang kalau kamu berusaha plus doa pasti bisa berhasil!”

Wati    :  ”Matur nuwun sanget atas nasehatmu, Din!”

Jidin   :  ”Terus kamu mau nglanjutin kuliah apa mau kerja di kampung?”

Wati    :  ”Aku sih walaupun lulus bakal tetep nandur di sawah kayak Arini deh. . .Teman-teman kita yang lain juga, rata-rata di sekolah ini yang lulus ujung-ujungnya nggarap sawah, nggak ada biaya masalahnya din!”

Jidin    :  ”Ya udah kamu yang sabar aja, kamu jaga desa aja deh selama aku pergi ke kota. Do’ain ya semoga aku bisa sukses belajar dan mengemban di desa ini”

Wati    :  ”Kamu beneran mau ke kota? (nada bicaranya menurun dan terlihat agak sedih)

Jidin : “Iya rin…. InsyaAllah”

Wati : ”Oke. . aku bakalan mendoakan mu?”

Saat mereka sedang berbincang-bincang dari kejauhan tampak seorang guru mendekati mereka, ternyata guru tersebut adalah Wali kelas Jidin dan Wati.

Guru  :  ”Selamat ya Jidin, Wati akhirnya kalian lulus? (sambil bergantian berjabat tangan dengan Jidin dan Wati)”

Jidin & Wati  :  ”Terima kasih, Bu?”

Guru   :  ”Ngomong-ngomong Jidin mau nglanjutin kuliah di kota ya? Jadi apa nggak din?”

Jidin   :  ” (Jidin menganggukan kepala sambil tersenyum bangga) Insya Allah Bu, Jidin jadi nglanjutin ke kota. Mohon doa restu ya Bu, Jidin ingin berusaha menjadi orang yang sukses agar bisa memakmurkan desa ini!”

Guru   :  ”Sungguh mulia sekali apa yang Jidin harapkan!”

Jidin   :  ”Selagi Jidin sanggup, Jidin akan berusaha semaksimal mungkin”

Wati    :  ”Ehem. . .(seperti batuk)”

Guru   :  “(memandang ke arah Wati) Oh iya kalau Wati mau nglanjutin kemana?”

Wati    :  ”Wati sih nggak nglanjutin Bu, Wati bantu orang tua nggarap sawah aja Bu?”

Jidin   :  ”Iya Bu, Wati aku tugasin jadi satpam di desa untuk menjaga keadaan desa kami!”

Wati   :  ”Ih. . .Jidin nyebelin jadiin aku satpam (sambil cubit perut Jidin), emang aku dibayar berapa?”

Jidin & Guru  :  ”Heheheh. . .”

Wati    :  ”Kok malah ditertawain sih?”

Guru   :  ”Udah-udah Ibu jadi hampir lupa nih, mau menyampaikan sesuatu kepada Jidin. (sambil mengeluarkan amplop cokelat berisi uang) ini Ibu memberi sedikit uang untuk kamu di kota nanti!”

Jidin   :  ”Nggak Bu, terima kasih. Bapak saya mengajarkan saya untuk tidak meminta walaupun sedang sulit.”

Guru    :  ”Kamu bener-bener anak yang baik din, sudah terimalah uang ini. Anggap aja ini hadiah dari Ibu atas kelulusan kamu?”

Jidin   :  ”(berfikir sebentar) Terima kasih Bu, atas apa yang Ibu lakukan buat Jidin”

Guru : “Oh iya. Ibu hampir lupa. Gini nih, din.. Ibu punya saudara di kota. Dia juga seorang guru, anak mereka semua sudah bekerja di kota. Sudah mapan. Nah, kalau kamu mau, silakan kamu tinggal di rumahnya selama kamu kuliah di kota. Mereka tidak keberatan kok. Asal kamu nggak bikin ulah aja disana! (tersenyum)”

Jidin : “Ya Allah, ibu.. nggak usah repot-repot, bu…”

Guru        :  ”alah… Nggak apa-apa. Ya udah Jidin dan Wati, Ibu mau pergi dulu masih ada urusan yang lain!”

Jidin : “Makasih ibu…”

Guru : “ Ya..”

Wati : “Waaa… selamat ya?”

Setelah guru tersebut pergi, beberapa saat kemudian Jidin melihat Arini dari kejauhan. Memandang pujaan hatinya yang sedang senang bersama teman-temannya karena lulus, ia menghela nafas sesaat. Berat rasanya pergi ke kota meninggalkan Arini di desa. Tetapi demi cita-citanya Jidin yakin pasti bisa!”

***

Di tengah sunyinya malam, Jidin sholat istiharoh untuk meminta petunjuk dari sang pencipta agar niatnya untuk pergi kuliah ke kota besok mendapat petunjuk, ridha, dan perlindungan dari-Nya. Saat jidin selesai sholat dan berdoa. . . .

Pak Slamet    :  “Jidin. . . “

Jidin   :  “Eh bapak, barusan selesai sholat tahajud ya? Ada apa ya pak?

Pak Slamet   :  ”Ya nak, bapak baru selesai sholat tahajud. Bapak cuma berpesan sama kamu, nanti kalau kamu ke kota kemanapun kamu pergi, jangan pernah kamu lepas dari lafads Allah dan jangan meninggalkan sholat serta jangan pernah lupa dengan keluarga dan desamu ini?”

Jidin    :  ”Jidin akan selalu ingat pesan dari bapak. Jidin minta do’anya ya pak, agar selalu diberi kemudahan dalam mengejar cita-cita Jidin!”

Pak Slamet  :  ”Bapak akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya (sambil merangkul jidin)”

Pagi harinya  di rumah  juragan. . . .

Tika    :  “Aduh mom, anak belagu itu ternyata lulus mom dan besok mau pergi ke kota buat kuliah. Gimana nih mom?(sambil berjalan menghentakkan kakinya ke lantai menghampiri mamanya)”

Juragan Hindun       :  “Anak belagu siapa? (sambil menghitung uang)”

Tika    :  ”Itu si Jidin (dengan muka cemberut)”

Juragan Hindun :  ”La terus emangnya kenapa tha?(cuek sambil menghitung uang)”

Tika   :  ”Ya kalau nanti dia pinter terus orang desa juga diajak pinter kita bakalan terhambat buat ngejalanin proyek kita!”

Juragan Hindun :  ”Oh gitu ya (sambil meletakkan uang itu di meja). Ya kamu coba saja tagih utang keluarganya saja biar dia nggak punya biaya ke kota!”

Tika    :  ”Itu masalahnya mom, keluargnya itu kan nggak punya utang sama keluarga kita (dengan muka manyun)”

Juragan Hindun :  ”Ya, mereka itu keluarga yang paling susah buat utang sama kita!”

Tika    :  ”Terus gimana ya mom?”

Juragan Hindun  :  “(geleng-geleng kepala) kamu kan sarjana masa’ gitu aja nggak bisa?”

Tika    :  “Cuapek deh. .apa hubungannya sama sarjana mom? (mengernyitkan dahi)”

Juragan Hindun  :  “Ya ada hubungannya donk, kan kamu ahli dalam urusan kayak gituan ya kamu ndiri aja yang ngurus!”

Tika   :  “Ye. .ngurus itu Tika, ngurus ini Tika, apa-apa Tika? Gimana sih, nggak adil! “

Juragan Hindun :  “Udah ah, bahas persoalan ini nanti aja bikin ribet ! lagian, kuliah itu kan lama. Kita masih punya cukup banyak waktu buat mikirin itu. By the way any busway Barda kemana sih? Dari tadi nggak kelihatan batang idungnya?”

Tika    :  “Nggak tau nih mom, mungkin aja lagi molor deket pohon mangga di depan ntu!”

Juragan Hindun  :  “Oalah tu orang, nggak bisa di andelin sih! Kerjaannya molor doank! Barda. . .. Barda. . .(sambil  teriak-teriak)”

Barda  :  ”Juragan, ada apa? Lagi enak-enaknya tidur dibangunin! Semalam begadang nih!”

Juragan Hindun  :  ”Juragan. . Juragan. .kampungan banget sih manggilanya? Panggil aku Nyonya! Nyonya Hindun (sambil mengacungkan kipas ke muka Barda)”

Barda  :  ”Iya Nyonya Hindun! Eh. . .. eleh-eleh pagi-pagi non Tika udah gelis pisan teh!”

Tika    :  “Idih. . .dih. .jellleeeh. . . . nggak usah sok ngrayu deh loh!”

Juragan Hindun  :  “Heh, nggak usah ngrayu-ngrayu anakku napa? Sekali lagi kamu ngrayu-ngrayu gitu aku pecat!!”

Barda  :  “Maaf nyonya (sambil garuk-garuk kepala), sebenarnya nyonya ngapain panggil Barda pagi-pagi gini? ada apa sih?”

Juragan Hindun :  “Sekarang kamu ke Pak Bejo dan Bu Warni, bulan ini mereka belum melunasi hutang-hutangnya! Jika mereka tidak mau, ambil semua barang-barangnya!”

Barda :  “Kapan nyonya?”

Juragan Hindun       :  “Taon depan!”

Barda  :  “Taon depan nyonya? Ngapain nyonya manggil Barda sekarang, toh taon depan ngejalanin tugasnya?”

Juragan Hindun       :  “BARDA!! Kamu ini DDR banget sih? Ya sekarang donk!”

Barda :  ”La kata nyonya taon depan, gimana sih?”

Juragan Hindun :  ”BARDA!! Pokoknya kamu sekarang ke rumah Pak Bejo dan Bu Warni. Kalau sekarang kamu nggak angkat kaki dari sini dan nggak ngejalanin tugas dari saya, aku pecat kamu!! (sambil berteriak-teriak)”

Barda pun lari terbirit-birit menjalankan tugas dari juragan. . . . . .

***

Sore harinya, matahari nampaknya sudah tidak ingin menampakan dirinya di kala menjelang malam. Di rumah Jidin, tepatnya di kamar Jidin, ia dibantu Wati sahabat sejatinya bersiap-siap untuk berangkat ke kota besok. Mereka menghabiskan saat-saat bersamanya. . . . . .

Wati    :  “Din, emangnya kamu bener-bener mau pegi? Adikmu kan masih sakit, apa ndak tunggu adikmu sembuh dulu? Kalau bisa pertimbangin lagi!”

Jidin    :  ”Aku juga bingung ti? Tapi kalau nggak sekarang, kapan lagi? Ini kesempatan buat ngejar impianku. . . .”

Wati   :  ”Ya sudah terserah, tapi kamu jangan lupain aku ya, yang manis, baik hati, tidak sombong, rajin menabung ini. Kalu nggak, misalnya kamu lupa liatin aja fotonya Sandra Dewi. Heheheh. . . .”

Jidin   :  ”Haha.. ihh!!”

Wati    :  ”Ya sudah aku mau pulang dulu ya udah mau maghrib nih?”

Jidin   :  ”Oke, perlu diantar nggak? Ntar kenapa-kenapa?(dengan nada menggoda)”

Wati  :  ”Weleh-weleh. . .kayak rumahnya jauh aja, pake diantar segala. Wes aku tak pulang dulu”

Jidin   :  ”Ya ati-ati ti. . . .(sambil tersenyum)”

Setelah Wati pulang kerumahnya, Jidin masuk kedalam rumahnya dan mengecek Tini yang masih berbaring lemah ditempat tidurnya. Jidin cemas dengan keadaan Tini sekarang, apalagi dia harus pergi jauh ke kota. Niatnya mulai goyah. Jidin meragu. . .

Jidin   :  ”Tin, gimana keadaanmu? Apa lebih baik mas tidak usah ke kota dulu, tunggu kamu mendingan?”

Tini      :  ”Ndak usah mas (suara serak), aku ndak apa-apa. Uhuk. . .uhuk (sambil batuk)!”

Jidin   :  ”Tu kan batuk lagi, ndak apa-apa gimana coba?”

Tini    :  “Udah kok mas, ndak apa-apa. Mas Jidin  siap-siap aja, Tini pengen tidur dulu. Tini capek mas.”

Jidin   :  “Ya sudah, mas siap-siap dulu ya Tin. .sebelum tidur minum jamunya dulu ya?”

Tini : “(Hanya mengangguk dan kembali tidur)”

Jidin pun berjalan tanpa semangat ke kamarnya, dengan perasaan yang bimbang. Dia mengambil sebuah celengan yang selama ini untuk mengumpulkan uangnya, untuk bekal ke kota. Dan tak lupa ia juga mengambil sebuah amplop cokelat yang tersimpan di bawah bantalnya, isi amplop tersebut adalah uang dari gurunya. . ..

Jidin  :  ”(mengangkat celengannya dan berniat untuk memecahkannya) Apa ndak jadi berangkat aja yah? Kasihan Tini, penyakitnya tambah parah, apa lebih baik untuk berobat ke rumah sakit aja. Mungkin aku sudah ditakdirkan hanya bisa menjadi seorang petani yang biasa-biasa saja. Yang enggak berilmu. Ndak mungkin aku bisa jadi insinyur dan bisa merubah kehidupan di desa ini? Ah.. aku terlalu berkhayal”

Dengan hati yang bimbang Jidin menjatuhkan celengannya dan mulai menghitung, tiba-tiba Jidin dengar teriakan bapaknya yang memanggil Jidin. . . .

Pak Slamet   :  ”Jidin. . .Jidin. . .Adikmu din, cepat kesini!! (dengan nada cemas)”

Jidin   :  ”Ya pak. . . (terburu-buru mengampiri ke kamar Tini)”

Pak Slamet  :  ”Ini adikmu batuk dan mengeluarkan darah, gimana nih din? Wajahnya pucat sekali (sambil memegang tangan Tini dan mengelus rambut Tini)”

Jidin   :  ”Ayo pak, kita bawa ke puskesmas terdekat!”

Pak Slamet  :  ”Naik apa din, perjalanannya kan jauh. Ini sudah malam pula, kendaraan sudah tidak ada!”

Jidin   :  “Bentar pak, saya ke rumahnya Wati atau nggak aku akan pinjem mobil Juragan Hindun ntu?”

Pak Slamet     :  “Jangan din, kita jangan berurusan dengan rentenir gila itu! Bapak ndak mau keluarga kita terlibat dengan mereka!”

Jidin   :  “Tapi pak, ini mendesak. Kalau ndak cepat-cepat Tini bisa tak tertolong lagi!”

Pak Slamet pun akhirnya mau berurusan dengan juragan itu. Saat itu juga Jidin segera ke rumah juragan itu. . . . . . .

Sesampainya di rumah juragan, Juragan Hindun dan Tika sedang duduk di depan rumahnya. Mereka heran dengan kedatangan Jidin. . . .  . .

Jidin   :  “(Berlari terengah-engah) Assalamu’alaikum. . .  . . . “

Tika   :  “Wa’alaikumsalam (sambil berdiri), mau apa kamu dating kemari? (memandang Jidin tajam sambil melilitkan kedua tangan di depan dada)”

Jidin   :  ”Em. . .saya mau pinjam mobil (ragu-ragu)”

Juragan Hindun :  ”Hah? Minjem? Mobil? (kaget dan berdiri dari duduknya) emangnya kamu kira semua di dunia ini gratis apa? (dengan nada keras)”

Tika    :  “Sabar mom, sabar!! (sambil mengelus punggung mamanya). Oh jangan-jangan kamu pinjem mobil buat besok ke kota ya? Ih.. sorry ya??”

Jidin   :  ”Bukan. . . .ini keperluan mendesak, bukan buat saya untuk pergi ke kota! Tapi sekarang (dengan penuh harapan)”

Tika    :  ”Hah? Sekarang?? (kaget)”

Jidin   :  ”Iya sekarang, saya butuh mobil untuk membawa Tini ke rumah sakit, tolong pinjamkan!!”

Juragan Hindun :  ”Tetep nggak boleh! Walaupun buat ke rumah sakit adikmu yang penyakitan itu, bisa-bisa mobilku itu kena virus-virus penyakit dari adikmu lagi! Hihi. . .

Jidin   :  ”Tapi saya mohon. . . .(berlutut di hadapan Juragan Hindun) ”

Tika    :  ”Memangnya kamu punya uang?”

Juragan Hindun       :  ”Iya bener, pasti mau pinjem uang juga kan??”

Jidin   :  ”Tidak terima kasih, saya akan pakai uang untuk ke kota besok!”

Tika    :  ”Jadi kamu besok nggak jadi pergi ke kota untuk kuliah??”

Jidin   :  ”Iya”

Tika :  ”Ya udah, ini kuci mobilnya. Kami bolehin kamu pinjem mobil ini. Tapi, isi bensin dan nggak pakek Barda!!”

Jidin   :  ”Tapi, saya tidak bisa menyetir mobil??”

Tika    :  ”Itu masalah kamu!”

Tiba-tiba dari kejauhan Wati terlihat terengah-engah berlari dan berteriak-teriak memanggil Jidin, mendengar teriakan Wati Jidin pun kaget . . . . .

Wati    :  “(berteriak) Jidin. . . .Jidin. . .. . . “

Jidin   :  “Ada apa Ti? Kok kamu teriak-teriak nggak jelas kayak gitu?”

Wati    :  “(terengah-engah) Tini. . . tini. . .din!!”

Jidin   :  “Ada apa dengan Tini Ti? Ayo jawab Ti. . . .ayo jawab Ti? (sambil menggoyang-oyangkan tubuh wati)”

Wati    :  “Aku mau ngasih tau kalau Tini. . . .kalau Tini sudah tiada Din !!”

Jidin   :  “(mata berkaca-kaca) Apa???? Inalillahi. . . . . .”

Wati    :  “Kamu harus ikhlas dan sabar atas kepergian Tini din!!”

Jidin pun langsung berlari ke rumahnya dengan perasaan yang galau, merasa bersalah, semua perasaan bercampur aduk tak karuan. Sesampainya di rumah. . . . . . .

Jidin   :  “Bapak. . .bapak. . .apakah benar yang dikatakan Wati?? Jawab pak!!”

Pak Slamet pun tak berkata apa-apa, dia masih terpukul dengan kematian anak gadisnya. Jidin pun langsung masuk ke dalam kamar Tini. Jidin terlihat lemas melihat keadaan adiknya yang terbujur kaku sudah tak bernyawa. Jidin pun langsung  memeluk jenazah adiknya”

Jidin  :  ”(dengan suara lirih) Maafin mas Tini. Mas Jidin udah egois dalam mengambil tindakan ini. Mas tidak bisa membedakan mana yang lebih penting, mas sangat menyesal Tin! Maafin mas ya Tin. . . .”

Wati    :  ”Udah din, relakan kepergian Tini”

Jidin :  ”Jangan sok nasehatin deh! Kamu tuh nggak pernah ngrasain apa yang aku rasain! (dengan nada kasar)”

Pak Slamet   :  ”Jidin!!! Kamu nggak boleh berkata kasar sama sahabatmu!!! Kematian adikmu sudah takdir dari Allah, kamu nggak boleh ngelak dengan semua ini!! Istighfar din. . .istighfar din,. . . ”

Jidin    :  ”Astaghfirullah. . . . maafin Jidin pak, maafin Jidin juga Wati atas perkataan Jidin barusan. Jidin khilaf, Jidin kelewat emosi!”

Wati    :  ”Iya Din, aku maafin. Maafin aku juga ya?”

Arini & Bu Nur           :  ”Assalamu’alaikum. . . . ”

Lamunan mereka terpecah atas kedatangan Arini dan ibunya. . . . . . .

Pak Slamet, Jidin & Wati    :  ”Wa’allaikumssalam. . . . .”

Bu Nur          :  ”Kami ikut berduka cita atas kepergian Tini. Kalian harus berlapang dada atas kepergian Tini”

Pak Slamet   :  ”Iya bu, terimakasih. Minta doanya ya bu, agar Tini bisa di terima di sisinya?”

Bu Nur         :  “Iya, pak.. Amin. . . .”

Arini :  “(mendekat ke arah Jidin & Wati) Sabar ya din. Kamu harus kuat menghadapi kejadian ini. Tetaplah tenang jangan sedih melulu, kalau kamu bisa tenang mengikhlaskan kepergian Tini. Tini akan lebih tenang disana!!”

Jidin   :  ”Terima kasih ya rin (tersenyum kecil)”

***

Keesokan harinya pun Tini di semayamkan di dekat kuburan Almarhum ibunya. Pak Slamet dan Jidin terlihat masih terpukul dengan kepergian Tini. . . . .

Seminggu kemudian setelah kepergian Tini, keluarga Jidin melakukan aktifitas seperti sedia kala. Sore harinya Pak Slamet dan Jidin bercengkerama di teras rumahnya dengan dua cangkir kopi dan pisang goreng yang sudah dingin. . . .

Pak Slamet   :  ”Jidin. . . .(memulai pembicaraan)”

Jidin   :  “Iya pak, ada apa ya pak?”

Pak Slamet    :  “Bapak mau membicarakan masalah kamu untuk nglanjutin sekolah ke kota yang sempat tertunda Din?(sambil menepuk bahu Jidin)”

Jidin    :  “Nggak usah bicarain masalah itu lagi pak, Jidin sudah nggak niat untuk sekolah di kota! Jidin emang sudah ditakdirkan untuk membantu bapak di sawah!”

Pak Slamet     :  “Huush…kamu jangan ngomong kayak gitu. Itu cita-cita mu lho nak?”

Jidin   :  “Itu sekedar cita-cita pak? Mimpi…. bisa tercapai dan ada juga yang nggak bisa tercapai. Mungkin yang Allah ‘sukses’ yang Allah beri ke Jidin itu bukan dengan jalan kuliah di kota, tapi mungkin dengan membantu Bapak kerja di sawah.”

Pak Slamet   :  “Bapak mau cerita, sebelum Tini menghembuskan nafas terakhir dia sempat berpesan kepada bapak untuk menyampaikan pesan itu ke kamu. Katanya, apa yang kamu lakukan untuk melanjutkan sekolah ke kota, itu pilihan yang tepat! Jadi kamu jangan merasa bersalah atas kepergian Tini. Tini bilang kalau dia sangat bangga mempunyai kakak seperti kamu, kamu begitu berusaha keras untuk sekolah dan juga dia bilang kalau uang yang kamu kumpulkan bertahun-tahun lebih baik untuk kamu sekolah agar bisa memajukan desa ini. Daripada untuk berobat karena berobat tidak berobat rasanya sama saja, sia-sia saja uangnya (Pak Slamet merangkul Jidin)!”

Mata Jidin berkaca-kaca dan kalimat terakhir yang di ucapkan Pak Slamet membuat Jidin meneteskan air mata. . . . . .

Jidin   :  “Apa yang bapak katakan semua itu, Tini yang katakan pak?”

Pak Slamet    :  ”Bener nak, semua yang bapak katakan tadi Tini yang katakan?”

Jidin   :  ”Maafin Jidin ya pak, Jidin sempat berputus asa untuk tidak melanjutkan perjuangan Jidin meraih cita cita Jidin!”

Akhirnya pun Jidin bersedia bersekolah di kota untuk melanjutkan perjuangannya meraih cita-citanya.

Pada malam hari di rumah juragan. . . . . . . . . . .

Tika    :  “Mom, akhirnya si anak miskin itu nggak jadi ke kota ya? Untuk sekolah?”

Juragan Hindun  :  “Ya iyalah, untung aja si Tini itu mati”

Tika & Juragan Hindun       :  “Hahahahahah. . . (tertawa puas)”

Tika    :  “Uhuk. . . .uhuk. . . (tersendak makanan)”

Juragan Hindun   :  ”Hati-hati donk Tik?”

Tika     :  ”Iya mom, saking senengnya denger penderitaan anak miskin itu. Sekarang rencana kita apa mom?”

Juragan Hindun    :  ”La kamu tha bagaimana dengan vila ”Pesona Kasoeng Indah ntu?”

Tika    :  ”Udah beres mom, tinggal nunggu waktu aja!”

Juragan Hindun       :  ”Tinggal nunggu waktu sampai kapan lagi?”

Tika     :  ”Ya vila dah jadi, tinggal nunggu promosi ke luar aja dan semua sawah-sawah di desa ini di beli aja mom buat di jadiin mall sama apartement?”

Juragan Hindun       :  ”Enak aja! Beli sawah itu nggak segampang yang kau fikirkan!”

Tika   :  ”Momy pikun deh, kan ada beberapa warga desa ini yang menggadaikan sawahnya kita kan ambil aja sesuka kita kalau mereka dalam kurun waktu minggu ini nggak bisa bayar utang-utangnya? Beres kan?”

Juragan Hindun       :  ”Betul juga kamu Tik, kamu bener-bener licik seperti bapakmu!!”

Tika    :  ”Momy!!! Bukan bapak tapi Daddy, hahahahahaha. . . .  .buah kan jatuh nggak jauh dari pohonnya!”

Tika & Juragan Hindun       :  ”Hahahahahahah. . . . . . .  .”

***

Rencananya esok hari Jidin akan berangkat ke kota, bapaknya membantu Jidin untuk mempersiapkan segala kebutuhannya di kota. . . . . . . .

Keesokan harinya, saat matahari masih malu-malu menampak dirinya Wati sudah ada di rumah Jidin dan di susul dengan Arini. Arini membawa rantang untuk bekal Jidin di perjalanan. Pagi-pagi ini Jidin akan meninggalkan desa kesayangannya untuk sementara waktu. . . .  . .

Jidin   :  ”Pak Jidin pamit ya pak, do’ain Jidin ya pak? (menyalami tangan bapaknya)”

Pak Slamet    :  ”Iya nak, hati-hati ya nak? Jaga dirimu baik-baik, banyak godaan disana bisa jadi menjerumuskan kamu ke hal yang nggak bener. Pokonya kamu harus selalu inget sama Allah, jangan lupa sholat 5 waktu!”

Jidin   :  ”Iya pak. .Wati kamu jaga bapak ya selagi aku di kota (sambil menyalami Wati)”

Wati    :  ”Oke bos!!!(sambil hormat) hati-hati ya kamu disana. Jangan pernah lupain aku ya, seperti yang pernah aku bilang kemarin-kemarin.heheheh. . .”

Jidin   :  ”Dasar kamu itu!! Siip!!”

Jidin mendekati Arini dengan malu-malu. . . . . .

Arini   :  ”Hati-hati ya din, kamu harus jaga kesehatan selalu disana. Rantang yang aku kasih tadi jangan lupa dimakan ya??”

Jidin   :  ”Makasih ya Arini atas rantangnya (menyalami Arini) Hmm. . .nanti aku makan”

Wati    :  ”Cie-cie. . . .ehm-ehem. . . . “

Tiba-tiba. . . . . . .

Tika    :  “Lihat tuh mom, deso aja belagu sok pingin sekolah segala!”

Juragan Hindun :  “Iya, miskin ya miskin! Nggak usah belagu pake kuliah segala. Yang pantes kuliah hanya anakku yang ini (sambil merangkul Tika)”

Mereka pergi sambil merengut dan memalingkan wajah serta melenggang pergi. . . .

Wati    :  ”Udah Din, nggak usah dengerin omongan mereka!”

Jidin   :  ”Ya. .ya. . Ya udah aku berangkat dulu ya?? Assalamu’alaikum. . . .”

Pak Slamet, Wati & Arini     :  ”Wa’alaikumssalam. . . .hati-hati ya??”

Jidin pun pergi ke kota, dia bertekad untuk berusaha mencapai cita-citanya agar bisa membangun desanya agar lebih maju, seperti harapan Tini. Jidin sangat menyayangi adiknya. Dia belajar lebih giat untuk ujian masuk IPB dan akhirnya dia mendapat beasiswa untuk kuliahnya selama empat tahun. Jidin menjadi orang yang pandai, Jidin berharap dengan sekolah di IPB dia bisa membantu para petani di desanya. Jidin juga berencana dua tahun sebelum pulang, dia habiskan untuk bekerja di kota untuk modal membangun desanya. Tawaran demi tawaran datang bertubi-tubi, berkat kepandaiannya. Sekarang Jidin menjadi orang sukses di kota.

Sementara itu di desa Wati sedang merenung sendiri, dia merasa kesepian ditinggal Jidin. .

Wati   :  “hemm. . .kenapa aku jadi kangen ya sama Jidin. Rasanya desa ini sangat sepi tanpa dia, Jidin selalu buat desa ini ramai dan ceria. Hem. . .sekarang kamu lagi ngapain ya Din??”

Kini Wati benar-benar yakin akan satu hal. . . . . Wati mencintai Jidin. . . . .  .

***

Keesokan harinya saat Wati sedang menyapu di halaman rumah Arini datang dengan membawa rantang. . . .

Arini    :  “Pagi Wati. . .  .!!”

Wati    :  “Eh. . .Arini, ada apa ya pagi-pagi gini kamu kerumahku (bingung)?”

Arini    :  “Ini diberi kue dari ibu (memberikan rantang itu ke Wati)!”

Wati    :  “Oh. . .terima kasih banyak nih Tin”

Arini    :  “Kamu masih sibuk ndak?”

Wati    :  ”Ya ini bentar lagi selesai, ada apa tha?”

Arini    :  “Aku mau cerita masalah Jidin sama kamu? Boleh ndak?”

Wati    :  “(mengernyitkan dahi) ya udah duduk rin. . .Mau cerita apa tha?”

Arini   :  “Emm. . .kamu kan selalu dekat sama Jidin sebagai seorang sahabat? Apakah dia selalu membicarakan tentang aku? (dengan perasaan malu dan ragu-ragu)”

Wati   :  “Ya, Jidin pernah bilang sama aku kalau dia mengagumi kamu sejak umur 10 tahun dan dia juga cerita semua sama aku tentang kamu, tapi sayang dia tak pandai berbicara jika di dekatmu? Hehehe. . .”

Arini    :  “Benarkah apa yang kamu katakan semua ini Wati (wajah berbinar-binar)”

Wati    :  “Hmm. . . .betul betul betul. . . .  .”

Arini   :  “Sebenarnya aku juga mengagumi Jidin, malah perasaan itu makin lama makin berkembang saat Jidin mulai ke kota!”

Wati    :  “(kaget) Ka. .ka.. mu ju. .ju.. ga sebenarnya suka? (tanyanya terbata-bata)”

Arini    : ”Hmm.. . . (dengan ekspresi malu)”

Wati :  “Ya allah, kenapa yang di rasain Arini juga yang aku rasain? (gumamnya lirih)”

Arini    :  “Apa Ti? Aku nggak dengar apa yang kamu omongin?”

Wati    :  ”Nggak kok Rin. . .(berusaha tersenyum)hehehe. . .!”

Arini   :  ”Emm. . .jadi lupa nih Ti, aku tadi sehabis dari runahmu disuruh ke pasar Ti. Ya udah aku pulang dulu ya Ti, salam buat ibumu”

Wati    :  “Ya udah ati-ati ya?”

Tiba-tiba Wati meneteskan air matanya yang dari tadi di tahan, sungguh tak kuasa Wati menerima ini semua. . . . .

Wati    :  “Mestinya aku ikut bahagia sebagai sahabat Jidin mendengar itu semua dari Arini! Cinta Jidin nggak bertepuk sebelah tangan. Tapi cintaku yang betepuk sebelah tangan….

***

Selama enam tahun Jidin pergi dari desa, keadaan desa sekarang lebih parah. Banyak warga yang berhutang pada juragan lintah darat itu dan semakin banyak pula sawah warga yang di sita. Akan tetapi sekarang sang pejuang akan datang, merubah nasib warga desanya menjadi lebih makmur dan sejahtera. Jidin telah menjadi seorang Insinyur pertanian dari IPB. Dia akan segera pulang dan akan mewujudkan impiannya. . . .  . .

Sesampainya di rumah. . . . . .

Jidin   :  “Assalamu’alaikum. . . .(sungkem menyalami bapaknya)”

Pak Slamet  :  “Wa’alaikumssalam, kamu sudah pulang  nak? Alhamdulillah. . .!”

Jidin   :  “Alhamdulillah, Jidin pulang dengan selamat pak? Gimana keadaan bapak saat Jidin di kota? Sehat wal afiat kan pak?”

Pak Slamet   :  ”Alhamdulillah nak, bapak masih diberi kesehatan oleh Allah. Kamu gimana di kota?”

Jidin    :  ”Waktu di kota Jidin mendapat beasiswa, jadi kebutuhan uangnya bisa mencukupi selama Jidin hidup di kota. Memang benar hidup di kota lebih berat dari pada di desa. Alhamdulillah lagi, ada saudara bu guru yang tinggal disana yang mau rumahnya ditumpangin Jidin. La gimana pak kehidupan di desa sekarang, selama Jidin nggak ad disini!”

Pak Slamet   :  “Keadaan warga kita semakin memburuk Din, rata-rata warga berhutang dengan juragan itu. Semakin banyak pula sawah hasil jerih payah mereka di sita dengan paksa oleh juragan tersebut, untungnya bapak masih bisa menghidupi diri sendiri. Dan juga Wati selalu membantu bapak!”

Jidin   :  “Dasar Juragan mata duitan!! Oh iya aku mau ke rumah Wati dulu ya pak? Melepas rindu dengan seorang sahabat!!”

Pak Slamet    :  “Kamu nggak makan dulu Din?”

Jidin   :  ”Nanti aja pak?”

Sesampainya di rumah Wati mereka berbincang-bincang melepas rindu selama bertahun-tahun  tak berjumpa.

***

Keesokan harinya Jidin memulai aktivitasnya seperti biasa, membantu ayahnya menggarap sawah. Walaupun dia sekarang sudah sukses dan punya penghasilan lebih, tapi dia tetap tinggal di rumah dulunya. Cita-citanya untuk sekolah di kota sudah tercapai, sekarang Jidin bertekad untuk memajukan dan berbagi ilmu kepada warga desanya tersebut. Jidin membangun sebuah kelompok ”Desa Kasoeng”, maksud dan tujuan Jidin membuat kelompok tersebut adalah Jidin berkeinginan untuk mengarahkan warganya bagaimana cara cocok tanam yang baik. Agar warga semakin mengerti bagaimana menjaga, merawat dan mengolah lahan tersebut. Semakin hari warga semakin mengerti dengan apa yang diajarkan Jidin, semua warga senang atas didirikannya kelompok ”Desa Kasoeng tersebut”. Mereka sedikt demi sedikit membayar hutang di juragan dengan panen yang berlimpah ruah.

Pak Slamet    :  ”Jidin keadaan desa kita sekarang sudah semakin maju. Itu semua berkat kamu nak?”

Jidin  :  ”Alhamdulillah pak, ini semua berkat doa dari bapak dan semua warga yang mendukung Jidin”

Pak Slamet    :  ”Usahamu nggak sia-sia nak? Untuk bertekad sekolah di kota!”

Tiba-tiba. . . .

Tika    :  ”Assalamu’alaikum. . . .”

Pak Slamet & Jidin  :  ”Wa’alaikumssalam (mereka mengernyitkan dahi)”

Jidin   :  ”Tika, ngapain kamu kesini?

Tika    :  ”Ini aku bawakan hasil panen dari kebunku?”

Jidin   :  ”Sejak kapan kamu peduli dengan keluargaku?”

Tika     :  ”Sejak kamu udah sukses dan kaya raya. Uups. . . . keceplosan, waduw gimana nih (membalikkan badan)”

Jidin   :  “Barusan kamu ngomong apa ha??”

Tika    :  ”Sebenarnya aku mau bilang, kalau aku suka sama kamu Din? Sejak pada pandangan pertama!”

Jidin   :  ”Kamu hanya cinta sama uang saja! Sekarang kamu angkat kaki dari rumahku!!”

Tika   :  ”Berani-beraninya kamu ngomong gitu sama aku, kamu emang sekarang sudah kaya tapi sama aja belagunya waktu kamu miskin. Orang yang paling kaya di kampung ini cuma mamyku! Inget itu!!!”

Jidin   :  ”Dasar lintah darat!!”

Pak Slamet    :  ”Udah Jidin. . . .”

Tika pun pulang kerumahnya, dia kaget dengan keadaan rumahnya yang berantakan. Ternyata bank nagih utang sama juragan. . . . . .

Juragan Hindun  :  ”Rumah kita Tik, rumah kita di sita sama bank. Kita terbelit utang sampai-sampai uang momy ludes semuanya Tik?”

Tika    :  ”Apa mom? Terus Vila kita masih ada kan?”

Juragan Hindun :  ”Vila itu pun sudah ludes, itu pun masih nggak cukup untuk nglunasi utang-utang kita di bank. jadi kita sekarang nggak punya apa-apa! Hari ini juga kita di suruh angkat kaki dari rumah ini. Momy nggak mau jadi gembel Tika?”

Tika    :  “Kita nginep di rumah Barda aja mom, tuh orang sekarang dimana?”

Juragan Hindun :  “Mungkin sekarang ada dirumahnya . Kita samperin kesana aja mom?”

Tika dan Juragan Hindun menuju kerumah Barda, dalam sela-sela perjalanan mereka di cemooh banyak warga karena sikap mereka yang rakus. Sesampainya di rumah Barda. . . .

Tika    :  “Barda. . . .!!!!”

Barda   :  “Eh non Tika, ngapain kemari? Aku udah ndak mau kerja di tempat non lagi!”

Tika    :  “Ealah ngapain juga aku mau memengerjakan kamu yang DDR banget!”

Barda  :  “DDR kayak gini, dulunya aku di butuhin di juragan kan? Maksud kedatangan non kesini ada apa?”

Juragan Hindun :  “Kami bermaksud untuk menginap beberapa hari ini di rumahmu. Kalau saya sudah dapet kontrakan, baru aku pergi dari rumahmu!”

Barda  :  “Enak aja, emangnya kamu kira semua di dunia ini gratis apa? Kalian boleh tinggal disini, tapi dengan satu syarat??”

Juragan Hindun & Tika       :  “Apaan? (sambil mengernyitkan dahi)”

Barda   :  ”Hehe. . .simpel kok, Tika harus mau jadi isteriku! Kalau nolak permintaanku ya sudah kalian angkat kaki dari rumahku sekarang juga!”

Sementara itu di depan rumah Jidin….

Jidin : “Rin…”

Arini : “Iya…. ada apa, Din…?”

Jidin : “Gini, rin.. Mas Jidin mau ngomong sesuatu sama kamu….”

Arini : “ Iya mas.. Arini disini siap mendengarkan mas Jidin dengan baik…”

Jidin : “ Mm…… aku cinta kamu”

Arini : “(pura-pura tidak mendengar) apa mas..?

Jidin : “Aku cinta kamu..”

Arini : “Kurang keras, mas… Yang jelas dong ngomongnya”

Jidin : “AKU CINTA KAMU..!!!!”

Arini : “ah… Yang bener mas..? Emang pacar mas di kota mau diapain..?”

Jidin : “Apa..? Pacar mas di kota?? Mas nggak punya pacar…”

Arini : “Oh…. Jadi mas Jidin belum punya pacar ya….? Sama dong, mas…”

Jidin : “Kalau gitu, kamu mau nggak jadi pacar mas Jidin..?”

Arini : “Jadi pacar mas Jidin? Nggak mau…”

Jidin : “Kenapa?”

Arini : “Arini maunya jadi istri Moejahidin Soetjipto Mangoen Koesoemo Mangkoe Wanita Lima Ing Tengah Segara Tanpa Boesana..”

Jidin : “Wah..? Yang bener kamu, rin..?”

Arini : “(diam, tersenyum dan mengangguk)”

Jidin : “Minggu depan mas lamar kamu…!!”

Semakin hari, desa itu semakin berkembang sehingga desa tersebut oleh pemerintah setempat dijadikan sebagai desa wisata. Rumah Juragan Hindun yang disita bank pun dibeli  oleh warga desa. Karena rumah Juragan Hindun adalah rumah paling besar di desa itu, akhirnya warga desa menggunakannnya sebagai vila untuk para pengunjung menginap.

Mulai saat itu, kehidupan desa yang asri dan sejahtera kembali lagi, bahkan sekarang menjadi lebih baik. Berkat ilmu yang Jidin peroleh di bangku kuliah, para petani tak hanya selalu mendapat  hasil panen dengan baik, tetapi sekarang hasil panen yang sangat luar biasa. Sebagian besar hasil panennya sekarang di ekspor ke China, dan sebagian lagi dikonsumsi warga dan para pengunjung desa wisata itu. Warganya pun kini lebih peduli tentang pendidikan, dan semua anak-anak mereka, mereka sekolahkan. Sekarang semakin banyak pula pengunjung dari kota dan dari luar kota bahkan luar negeri yang singgah untuk menikmati kehidupan pedesaan yang masih asri itu.

Keburukan akan menuai keburukan, dan kebaikan akan menuai kebaikan. Juragan Hindun yang dulunya sangat kaya dan sombong, kini entah ada dimana. Hampir semua warga tidak pernah melihatnya lagi. Menurut kabar dari seorang warga desa, kini Juragan Hindun suka berkeliaran di pasar seperti orang gila, menurut orang-orang Juragan Hindun sekarang gila karena harta yang sangat ia banggakan dan ia sayangi itu sudah ludes disita bank tempatnya dulu suka meminjam uang. Bicara mengenai kebaikan, sekarang Jidin hidup bahagia dengan istri tercintanya, Arini, dan ke 3 anaknya. Kemudian Wati, Wati yang dulunya juga menyukai Jidin dengan kesabaran, ketulusan, dan kebesaran hatinya ia mencoba mengikhlaskan Jidin. Karena menurutnya, Jidin akan lebih bahagia bila bersama Arini. Dengan semua kebaikan itu kini Wati menikah dengan salah seorang pengunjung desa wisata yang asli keturunan Australia. Wati pun sekarang berada di Australia sedang menikmati bulan madunya. Nick, keturunan asli Australia itu kepincut dengan Wati karena Wati pandai memasak masakan Indonesia, dan Nick, sangat mencintai masakan Indonesia yang kaya rasa dan cita itu. Dan Pak Slamet, ayah Jidin, tak ada lagi yang bisa melebihi rasa bahagianya. Ia bisa menikmati hari tuanya dengan menghabiskan waktu bermain bersama cucu-cucunya. Mengamati pertumbuhannya Ia pun bisa hidup tercukupi. Tak hanya itu, kebanggaan memiliki anak seorang Jidin yang dengan mimpi kecilnya mampu mengubah kehidupan desa menjadi jauh lebih baik adalah anugerah terindah yang ia pernah dapatkan.

Dan begitulah akhir dari kisah ini. Mereka semua yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan dan yang menanam keburukan..? seperti itulah. Semoga Tini juga bahagia di alamnya yang sekarang. Terimakasih sampai jumpa di lain waktu! Dada..!!! Eh.. tapi, tunggu dulu. Kami belum menceritakan bagaimana kisah akhir Tika. Kami akan menyuguh kan kisah akhir dari seorang lulusan teknik sipil, Tika, sebagai penutup perjumpaan kita di siang hari ini. Terimakasih..! 😀

  1. Mei 23, 2010 pukul 2:42 pm

    wahhh……. banyak banget, cape nih kalu baca…… dipraktekin aja bisa?……🙂🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: